Artikel Terbaru

Friday, November 17, 2017

SITUS PEKOWEN (Kenong/Gamelan) Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen Banyumas


Mungkinkah Wayang Kulit dan Gamelan Berasal Dari Banyumas?
Wayang kulit merupakan kesenian tradisional rakyat Indonesia yang mampu
bertahan dan dapat diakui eksistensinya melampaui lintas zaman dan benua. 

Jika menengok sejarah budaya Jawa, wayang kulit sudah berkembang sejak abad ke-15 dan hingga saat ini masih banyak penggemarnya meskipun dari kalangan tertentu. 
Wayang kulit adalah bentuk kesenian yang menampilkan adegan drama bayangan boneka yang terbuat dari kulit binatang, berbentuk pipih, diwarna dan bertangkat(Budi :2002:2)

Wayang kulit adalah kesenian tradisional yang telah berusia cukup tua yang telah diakui UNESCO pada tanggal 3 November 2003 sebagi karya yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpice of Oral and Intangible Heritage of Humanity)

Wayang berasal dari kata Ma "Hyang yang mengandung arti menuju kepada roh, spiritual, Dewa atau Tuhan Yang Maha Esa.

Wayang adalah sebuah kata berasal dari bahasa Indonesia (Jawa) asli berarti "bayang "atau "bayang-bayang" yang berasal dari  kata "yang", dengan mendapatkan awalan wa menjadi kata wayang (Sri Mulyono Herlambang,1983;53)

Sedangkan Wayang menurut Amir Mertosedono.S.H adalah:dalam bahasa Jawa perkataan wayang berarti wayangan (layangan). Dalam bahasa Indonesia berarti bayang-bayang, samar-samar, tidak jelas. Dalam bahasa Aceh berarti bayang, artinya wayangan. Sedang dalam bahasa Bugis berarti wayang atau bayang-bayang.(Amir Mertosedono:1993,28)

Sejarah wayang kulit tergolong sangat tua, menurut Sri Mulyono Herlambang bahwa wayang kulit purwa itu merupkan kesenian klasik tradisional yang timbul kurang lebih pada tahun 1500 SM, Jadi hingga hari ini sudah berusia 35 Abad (1983:3)

Menururt Dr Hazeu wayang kulit diperkiirakan telah tumbuh dan berkembang pada jaman kejayaan Kerajaan Kahuripan Kediri dibawah pimpinan Raja Prabu Airlangga (950 Cak-=1012 M).

Pertunjukan bayang-bayang (wayang) mempergunakan boneka dari kulit (walulang inukir) dan bayang-bayangnya diproyeksikan dalam tabir (kelir) (Sri Mulyono Herlambang (1983:21)

Perkembangan seni wayang kulit mengalami puncaknya dengan dipelopori Kanjeng Sunan Kalijaga melakukan berbagai inovasi dan kreasi jauh lebih maju dibandingkan pada jaman Prabu Airlangga.

Kanjeng Sunan Kalijaga membuat wayang dijadikan satu-satu, tiap satu wayang dibuat pada kulit satu lembar dengan menggunakan kulit kambing (Umar Hasyim,1974,3)

Kanjeng Sunan Kalijaga dianggap tokoh paling berjasa dalam perkembangan seni wayang kulit dengan modifikasi, kreasi dan inovasi beserta gamelannya.

Bersama Sunan Bonang, dan Sunan Giri, Kanjeng Sunan Kalijaga menciptkan wayang Punakawan Pandawa yang terdiri dari : Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.( Umar Hasyim,1974.24)


Situs Pekowen
Sejarah wayang kulit berdasarkan teks-teks buku sejarah dari berbagai kepustakan menyebutkan asal muasal wayang berasal dari daerah Jawa Timur.
Namun berdasarkan situs-situs yang ada diwilayah desa Glempang dan Tumiyang Kecamatan Pekuncen sebagaimana keterangan Pak Sakum (71) warga desa Glempang yang berkali kali mengunjungi situs-situs yang ada di dua desa tersebut dapat menjadi bahan kajian sejarah yang menarik,
Di desa Glempang terdapat situs Watu Tumpang, Situs Alang-Alang Bundet, Situs Wadas Pakeliran, sementara di Desa Tumiyang terapat situs Pekoen.

Salah satu yang cukup menarik adalah Situs Pekoen, yang sebenarya bernama situs Watu Kenong atau Gamelan teretak di Grumbul Pekoen Desa Tumiyang.
Situs Pekowen berisi alat-musik tradisional Jawa Gamelan yang terbuat dari batu mulai dari Saron, Kenong, Kempul, Kendang, Gong dll yang ada dalam situs itu.

Situs Pekowen jauh lebih lengkap bila dbandingkan dengan situs watu, kenong, atau watu kendang yang ada dibeberapa daerah diluar banyumas. karena hanya terdapat satu alat musik gamelan saja.

Begitu pula Situs Wadas Pakeliran di desa Glempang seperti disampaikan Pak Sakum, mantan budayawan Seni Ebeg desa Glempang yang mengatakan Situs Wadas Pakeliran bentuknya menyerupai kelir salah satu media wayang kulit.

Jika melacak jejak sejarah Kerjaaan Galuh Purba yang terletak di lereng selatan Gunung Slamet maka kemungkinan besar sangat erat hubungannya dengan situs-situs yang ada mulai dari desa Kranggan, Krajan, Pekuncen, Glempang, Tumiyang, Sambiarata, Panembangan, Rancamaya, Gununglurah, Sunyalangu, Baseh, sampai ke Penusupan Tunjungmuli Kabupaten Purbalingga. Situs-situs itu kebanyakan menurut para ahli berasal dari jaman Neolitikum dan Megalitikum.

Situs Pekowen (Gamelan), Situs Wadas Pakeliran, Situs Pangrawit, Situs Panembangan semakin memperbesar kebenaran bahwa wayang kulit asal muasalnya dari Kabupaten Banyumas.


Karangangka 17 Nopember 2017
Mulyono Harsosuwito Putra
Ketua Institut Studi Pedesaan dan Kawasan

0 comments:

Post a Comment